About Grieving
“Hai, Zoff.” Alana mendudukkan dirinya di sebelah Azoff. Laki-laki itu sedang duduk termenung di teras belakang rumahnya. Hampir delapan belas jam berlalu semenjak kepergian Amira. Dan selama itulah Alana — juga Riri dan Jiel menemani Azoff di kediamannya yang berlokasi di Bandung. Gadis itu bahkan tidak mengganti pakaiannya sejak terakhir kali ia meniggalkan apartemennya karna ia sama sekali belum kembali kesana. Pun Joffran yang tidak begitu dekat — hanya sekedar kenal dengan Azoff juga masih berada di sana.
“Na,” Sapanya singkat setelah menoleh sekilas. “Masih disini?”
Alana mengangguk meski laki-laki itu tidak melihat. Fokusnya penuh pada tanaman berwarna-warni yang tertata rapih di teras belakang rumahnya koleksi milik sang Mama yang sangat memanjakan mata.
“Udah makan?” Tanya Alana basa-basi. Gadis itu tahu betul bagaimana rasanya kehilangan selera makan setelah kehilangan seorang yang paling berharga. Ia jelas tahu bahwa jawaban atas pertanyaan basa basinya adalah belum.
Azoff menoleh. “Waktu itu kamu juga begini nggak, Na?” Ucapnya balik bertanya tak menghiraukan pertanyaan gadis itu.
Alana menaikkan kedua alisnya dengan maksud bertanya.
“Ibu.” Jawab Azoff setelah menoleh singkat.
Mengerti arah pertanyaan Azoff, Alana mengalihkan pandangannya pada tanaman-tanaman di hadapannya. Kedua tangannya bertumpu pada sofa yang ia duduki –disebelah kanan dan kiri kedua pahanya.
“Semua orang boleh pergi kecuali ibu. Pernah denger kalimat itu nggak, Zoff?” Ucap Alana tanpa menoleh.
Azoff mengikuti arah pandang Alana. Ia menggeleng pelan.
“Kurang lebih begitu rasanya.” Ucap Alana singkat. “Once you step into that day, duniamu nggak akan pernah sama lagi. Completely change.”
“It’s been four years sejak Ibu pergi, tapi rasanya aku masih belum terbiasa. Atau mungkin nggak akan pernah terbiasa?” Ucap gadis itu lalu terkekeh pelan.
“Aku selalu ngerasa Ibu cuma pergi keluar kota dan suatu hari akan pulang. Walaupun aku tau kenyataannya nggak begitu. It still doesn’t feel real. Until today. Padahal udah empat tahun.” Gadis itu menghembuskan napas berat.
Azoff masih setia menatap wajah Alana. Air mata berkumpul di pelupuk matanya.
Azoff mengalihkan pandangannya lagi. Kembali menatap tanaman hias di depannya. “Sampai kapan ya kira-kira, Na?”
Get fra.’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Alana menarik napas dalam sebelum menggeleng pelan. Ia tersenyum sendu.
“Sampai kapanpun, Zoff.” Ucapnya menoleh sekilas.
“Aku pernah baca satu quote. It says, the reality is we will grieve forever. You will never get over a loved ones. You will learn to live with it. You will heal and rebuild yourself around the loss you have suffered. You’ll be whole again but you’ll never be the same.”
“And that’s true. Kita nggak akan pernah bisa terbiasa, nggak akan pernah lupa, dan nggak akan pernah sembuh dari kehilangan orang yang kita cintai. Apalagi Ibu. Yang ada cuma kita belajar to live with it. Sampe seterusnya. Mungkin suatu saat nanti kita akan bisa kembali seperti biasa, kembali beraktivitas, kembali sibuk, kembali tertawa, kembali hidup tapi semua itu nggak akan kembali seperti sediakala. Hidup kita, semuanya nggak akan pernah sama lagi. Akan ada satu bagian dari diri kita yang hilang, kosong. Dan satu yang pasti, jiwa kita nggak akan kembali utuh. Nggak akan pernah.”
Azoff meneteskan air matanya untuk kesekian kalinya hari ini.
Alana menoleh saat rungunya menangkap suara tangisan samar-samar dari laki-laki disampingnya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat laki-laki itu menunduk dan terisak. Kedua kakinya terangkat ke atas sofa dengan lutut tertekuk. Kedua lengannya memeluk erat kedua lututnya. Semakin sakit yang Azoff rasakan dalam hatinya semakin dalam pula ia membenamkan seluruh wajahnya.
Alana menggeser tubuhnya mendekat. Tangannya kemudian terulur melewati pundak Azoff dan menariknya mendekat. Ia menepuk pelan pundak laki-laki itu berusaha menyalurkan kepedulian, berharap sentuhannya bisa sedikit menenangkan.
Azoff menurut dan membawa dirinya sendiri mendekat ke tubuh Alana. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu gadis itu mencari kenyamanan. Salah satu tangan Alana terulur menuju punggung luas laki-laki dalam dekapannya dan mengelusnya dengan lembut.
Semakin lama dan dalam usapan tangan gadis itu di punggungnya, perasaan kehilangan semakin menyelimuti hati dan pikiran Azoff. Ia kembali menangis tersedu-sedu memikirkan ia harus menjalani kehidupan selanjutnya tanpa sang Mama di sampingnya. Tidak akan ada lagi yang menyemangatinya di kala lelah menghampiri, tidak akan ada lagi yang meminta laporan berupa foto atau video setiap pagi dan malam karna laki-laki itu bekerja di New York dan memiliki perbedaan waktu yang sangat signifikan dengan Indonesia, tidak akan ada lagi yang menanyakan makanan apa saja yang ia makan hari ini, tidak akan ada lagi yang mengirimi pesan rindu dengan emotikon buket bunga. Dan yang pasti, tidak akan ada lagi yang menyayanginya setulus Mama.
Alana melingkarkan kedua tangannya di pundak Azoff. Ia mendekap laki-laki itu erat. Semakin erat dekapannya, semakin kencang pula suara tangisannya memenuhi rongga telinga Alana. Gadis itu pun hanyut terbawa suasana dan ikut menitikkan air mata. Bayangan Ibu terlintas di kepalanya.
“Hidupku selanjutnya gimana ya, Na?” Tanya Azoff disela-sela tangisannya. “Aku harus gimana ya tanpa mama?”
Jawaban paling jujur yang Alana punya saat ini adalah tidak tahu. Berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja juga bukanlah solusi yang tepat karena memang semuanya tidak akan pernah baik-baik saja setelah kehilangan seorang Ibu. Yang bisa gadis itu lakukan hanya mengeratkan pelukannya dan terus mengusap punggung Azoff dengan lembut. Berusaha menyampaikan bahwa ‘it’s okay to cry because you need to, you have to.’
Meskipun sudah “berpengalaman” kehilangan seorang Ibu, hingga detik ini Alana pun masih belum tahu bagaimana caranya berdamai dengan takdir yang ia miliki. Ia hanya belajar menjalani dan menikmati takdir yang di gariskan untuknya. Because that grieving will forever live in her. Selamanya, rasa kehilangan itu akan terus hidup dalam dirinya dan tidak akan ada satu pun yang mampu mengisi kekosongannya.
It’s okay to cry, because she will be here with him. It may not as warm and peaceful as Mama’s touch, but at least he got shoulder to cry on.
And it’s hers.








